Opini: Marhaenisme dan Revolusi Industri 4.0
Oleh: Bung Randing
I.
Beberapa waktu belakangan, kita dikejutkan dengan semboyan "revolusi industri 4.0". Semboyan tersebut seolah menjadi pemantik bagi para milenial saat ini. Yah sebut saja arahnya kesitu, sebab hari-hari ini tidak sedikit dari kaum milenial beranggapan bahwa, seluruh nuansa tersebut menjadi era baru untuk mengerahkan seluruh kemampuan pada kaum muda dalam soal mengolah "kreatifitas". Dengan tujuan yang spesifik: meningkatkan modal hidup. Kendati pertarungan ke arah persaingan menjadi basisnya.
Tetapi, meskipun "kreatifitas" terus berseliweran, selalu ada soal yang tak pernah diperiksa: bahwa kreatifitas adalah hasil pendalaman eksistensial, bukan sekedar proposal pameran. Artinya, pada batin yang kering nilai tak mungkin tumbuh kelenturan kreatifitas. Namun meskipun kering nilai, toh itu tak penting. Tujuannya adalah "modal hidup yang maksimal". Yang seringkali tak pernah maksimal. Yah itulah gairah kehidupan modernitas: terus menuntut lebih.
Konsistensi milenial tentu diuji dalam godaan materil yang amat serius. Tetapi seharusnya ada kemampuan sublimasi seorang milenial untuk teguh pada integritas nilai yang ia pilih. Tanpa itu, kreatifitas hanya hasil manipulasi sensasi konsumsi. Sebab, kreatifitas yang terbuka dan terselubung menjadi dua soal.
II.
Revolusi industri, terbuka ataupun terselubung, ada slogan baru yang diedarkan diantara kaum milenial: yaitu industri kreatif. Dasarnya adalah persaingan. Yang pada akhirnya adalah persaingan antar-kelas. Dan pada ujungnya pasti menimbulkan ketimpangan sosial. Sebab, yang tak mampu bersaing adalah soal yang memunculkan kontradiksi baru dan pastinya birokratisasi kreatifitas adalah palsu.
Ketimpangan sosial adalah headline yang selalu muncul pada awal revolusi industri. Akibatnya, seluruh bagian itu akan terus menyisakan konflik sosial. Sebab jalan dari teknologi media digital tersebut terus mencuatkan problematis di dalam masyarakat. Dalam point Marxisme disebut sebagai "populasi lebih". Gampangnya: selalu ada bagian masyarakat yang tertinggal.
Inilah yang sangat mungkin bagi Noam Chomsky dan ataupun Sizek yang sepenuhnya menyingkirkan peran media digital dalam revolusi dan menyatakan tubuh fisik di jalanlah yang sangat penting.
III.
Yang seringkali, pada bagian jurnalisme media digital tak lagi menjadi independen. Sebab, mereka bergabung dengan kekuasaan yang telah membayar jurnalistik digital untuk kepentingan kekuasaan itu sendiri. Akhirnya sekali lagi terjadi industri kreatif yang amat palsu. Terselubung oleh kegiatan ekonomi antar-pihak. Pada akhirnya, segelintir kelompok mendapatkan keuntungan dari eksploitasi terhadap pembagian kerja buruh digital.
Hal ini menjadi sangat urgen lagi, ketika kapitalisme dan negara telah bersatu-padu demi melanggengkan kekuasaan. Sehingga statistik kekuasaan bisa saja dimanipulasi sesuka hati. Dengan kata lain, mereka mungkin sangat berpotensi menjadi penyebar kebohongan. Pengaruh buruk kepada masyarakat sosial menjadi bagian yang sangat mungkin. Terutama penindasan kelas sosial yang terpinggirkan.
IV.
Pada akhirnya, semua soal inilah yang menjadi tantangan Marhaenisme. Media digital dan atau teknologi digital yang oleh inovatornnya berasal dari luar negri, asing. Koorporasi-koorporasi raksasa luar negri yang kita sebut sebagai kapitalis telah mengambil peran yang amat-sangat genting bagi kelas sosial.
Para pekerja online tak lagi bisa diidentifikasi sebagai kelas pekerja atau apa? Kelas proletar atau kelas kapitalis?
Yang pasti adalah mereka menggerogoti masyarakat sosial yang terus mengalami ketimpangan di sana sini. Marhaenisme terus terancam untuk berdiri di kaki sendiri melawan kooporasi asing. Neolib telah membuat sarang yang sangat kokoh. Yaitu: mengindividualisasikan masyarakat. Sehingga marhaenisme sangat mungkin juga ikut tenggelam ke dasarnya.
Media digital dan atau teknologi digital telah mengatur sedemikian rupa proses ekonomi makro. Problem ketiakadilan dalam masyarakat sosial membuat gejolak yang sangat buruk. Otomatisasi sistem komputer telah mengendalikan seluruh perjuangan kelas pekerja. Kemudian yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin melarat!
Saya simpulkan begini: membangun kesadaran kelas pekerja akan pentingnya perjuangan ke arah pembebasan harus terus dilakukan di tengah kredo "industri kreatif". Dengan menjadi kreatif oleh cara-cara sendiri dan dengan usaha bersama. Bukan melalui otomatisasi-individuisme. Sembari
terus mencari kemungkinan-kemungkinan baru sebagai jalan pembebasan kelas pekerja. Dan itu datangnya dari potensi kaum milenial. Melalui Marhaenisme dengan cita-cita berdiri di kaki sendiri!
Terima kasih.
Merdeka, jaya, menang.
Salam !
I.
Beberapa waktu belakangan, kita dikejutkan dengan semboyan "revolusi industri 4.0". Semboyan tersebut seolah menjadi pemantik bagi para milenial saat ini. Yah sebut saja arahnya kesitu, sebab hari-hari ini tidak sedikit dari kaum milenial beranggapan bahwa, seluruh nuansa tersebut menjadi era baru untuk mengerahkan seluruh kemampuan pada kaum muda dalam soal mengolah "kreatifitas". Dengan tujuan yang spesifik: meningkatkan modal hidup. Kendati pertarungan ke arah persaingan menjadi basisnya.
Tetapi, meskipun "kreatifitas" terus berseliweran, selalu ada soal yang tak pernah diperiksa: bahwa kreatifitas adalah hasil pendalaman eksistensial, bukan sekedar proposal pameran. Artinya, pada batin yang kering nilai tak mungkin tumbuh kelenturan kreatifitas. Namun meskipun kering nilai, toh itu tak penting. Tujuannya adalah "modal hidup yang maksimal". Yang seringkali tak pernah maksimal. Yah itulah gairah kehidupan modernitas: terus menuntut lebih.
Konsistensi milenial tentu diuji dalam godaan materil yang amat serius. Tetapi seharusnya ada kemampuan sublimasi seorang milenial untuk teguh pada integritas nilai yang ia pilih. Tanpa itu, kreatifitas hanya hasil manipulasi sensasi konsumsi. Sebab, kreatifitas yang terbuka dan terselubung menjadi dua soal.
II.
Revolusi industri, terbuka ataupun terselubung, ada slogan baru yang diedarkan diantara kaum milenial: yaitu industri kreatif. Dasarnya adalah persaingan. Yang pada akhirnya adalah persaingan antar-kelas. Dan pada ujungnya pasti menimbulkan ketimpangan sosial. Sebab, yang tak mampu bersaing adalah soal yang memunculkan kontradiksi baru dan pastinya birokratisasi kreatifitas adalah palsu.
Ketimpangan sosial adalah headline yang selalu muncul pada awal revolusi industri. Akibatnya, seluruh bagian itu akan terus menyisakan konflik sosial. Sebab jalan dari teknologi media digital tersebut terus mencuatkan problematis di dalam masyarakat. Dalam point Marxisme disebut sebagai "populasi lebih". Gampangnya: selalu ada bagian masyarakat yang tertinggal.
Inilah yang sangat mungkin bagi Noam Chomsky dan ataupun Sizek yang sepenuhnya menyingkirkan peran media digital dalam revolusi dan menyatakan tubuh fisik di jalanlah yang sangat penting.
III.
Yang seringkali, pada bagian jurnalisme media digital tak lagi menjadi independen. Sebab, mereka bergabung dengan kekuasaan yang telah membayar jurnalistik digital untuk kepentingan kekuasaan itu sendiri. Akhirnya sekali lagi terjadi industri kreatif yang amat palsu. Terselubung oleh kegiatan ekonomi antar-pihak. Pada akhirnya, segelintir kelompok mendapatkan keuntungan dari eksploitasi terhadap pembagian kerja buruh digital.
Hal ini menjadi sangat urgen lagi, ketika kapitalisme dan negara telah bersatu-padu demi melanggengkan kekuasaan. Sehingga statistik kekuasaan bisa saja dimanipulasi sesuka hati. Dengan kata lain, mereka mungkin sangat berpotensi menjadi penyebar kebohongan. Pengaruh buruk kepada masyarakat sosial menjadi bagian yang sangat mungkin. Terutama penindasan kelas sosial yang terpinggirkan.
IV.
Pada akhirnya, semua soal inilah yang menjadi tantangan Marhaenisme. Media digital dan atau teknologi digital yang oleh inovatornnya berasal dari luar negri, asing. Koorporasi-koorporasi raksasa luar negri yang kita sebut sebagai kapitalis telah mengambil peran yang amat-sangat genting bagi kelas sosial.
Para pekerja online tak lagi bisa diidentifikasi sebagai kelas pekerja atau apa? Kelas proletar atau kelas kapitalis?
Yang pasti adalah mereka menggerogoti masyarakat sosial yang terus mengalami ketimpangan di sana sini. Marhaenisme terus terancam untuk berdiri di kaki sendiri melawan kooporasi asing. Neolib telah membuat sarang yang sangat kokoh. Yaitu: mengindividualisasikan masyarakat. Sehingga marhaenisme sangat mungkin juga ikut tenggelam ke dasarnya.
Media digital dan atau teknologi digital telah mengatur sedemikian rupa proses ekonomi makro. Problem ketiakadilan dalam masyarakat sosial membuat gejolak yang sangat buruk. Otomatisasi sistem komputer telah mengendalikan seluruh perjuangan kelas pekerja. Kemudian yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin melarat!
Saya simpulkan begini: membangun kesadaran kelas pekerja akan pentingnya perjuangan ke arah pembebasan harus terus dilakukan di tengah kredo "industri kreatif". Dengan menjadi kreatif oleh cara-cara sendiri dan dengan usaha bersama. Bukan melalui otomatisasi-individuisme. Sembari
terus mencari kemungkinan-kemungkinan baru sebagai jalan pembebasan kelas pekerja. Dan itu datangnya dari potensi kaum milenial. Melalui Marhaenisme dengan cita-cita berdiri di kaki sendiri!
Terima kasih.
Merdeka, jaya, menang.
Salam !

0 Response to "Opini: Marhaenisme dan Revolusi Industri 4.0"
Post a Comment